Sunday, 11 June 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day10

6/11/2017 11:39:00 am 0 Comments
Subuh tadi setelah sahur, saya menanyakan pada pak suami jam berapa kami akan kembali ke rumah. Karena hari ini hari minggu jadi saya ingin berada di rumah dan membersihkan rumah. Pak suami bilang belum tahu. Saya lanjutkan kalau di rumah cucian dan setrikaan menumpuk sehingga lebih baik pulang agak pagian. Beliaupun mengiyakan. 

Namun, sayup saya mendengar dibalik kamar kami beliau mengatakan pada kedua mertua saya bahwa kami akan pulang siang hari setelah dzuhur. Bingunglah saya. Kesal dan kecewa. Rasanya kami sudah menyepakati apa yang akan kami lakukan hari ini namun pak suami ternyata banting stir sendiri. Akhirnya sayapun memilih diam saja sampai pagi ini. 

Saya: A, kita pulang pagi kan? *Masih pura-pura tidak mendengarkan percakapan beliau tadi subuh*
Suami: Hmmm paling jam 10-11an.
Saya: *Tarik nafas, berusaha gak emosi* Oh.
Suami: Kenapa?
Saya: Enggak, bisi aa lupa. Di rumah teh ada banyak cucian sama setrikaan. Kalau besok gak mungkin aku kerjain soalnya aku kelasnya dari pagi sampai sore. Sorenya kan masak lanjut tarawih. Kecuali kalau aa mau repot tiap kerja nyetrika baju sih.
Suami: *diam*
Saya: *Ikutan diam* 
Suami: *Masih diam*
Saya: Kan kita udah sepakat tadi mau pulang agak pagi......
Suami: Yaudah, tapi bantuin mama beberes disini dulu ya. 
Saya: Ok!

Dan, berakhrilah drama beberes pagi ini.

 

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day9

6/11/2017 11:39:00 am 0 Comments
Dihari ke 8 ini saya simpulkan kalau komunikasi produktif yang saya latihkan agak gagal dibanding hari-hari sebelumnya. Penyebabnya adalah suasana hati saya yang agak sedikit kacau seharian ini. Entah mengapa bawaannya itu sensitif sekali. Sedikit-sedikit gampang tersinggung. 

Malam ini, kami masih menginap di rumah mertua. Selepas buka puasa bersama saya mengajak pak suami untuk makan mpek-mpek. Kemudian berangkatlah kami menuju lokasi. Namun, karena suasana hati saya yang sedang kacau saya lupa mengutarakan maksud saya sebenarnua untuk makan mpek-mpek. Maksud saya adalah agar kami keluar sejenak dari rumah karena saya benar-benar sedang dalam suasana hati yang kurang enak. Khawatirnya saya, mertua saya merasakan perubahan mood saya dan menanggapinya lain. Namun, ajakan saya untuk makan saja di tempat tukang mpek-mpeknya ditolak oleh pak suami. Dengan alasan beliau bahwa kami harus makan bersama-sama orang tua kami. Sakit hati sih. Tapi saya tarik nafas lagi dan berusaha untuk mengingatkan diri sendiri kalau cara komunikasi saya salah. Dan pak suami tidak tahu maksud saya. Saya nurut saja akhirnya. 

Sesampainya di rumah dan setelah selesai makan, pindahlah saya ke kamar tidur karena suasana hati semakin kacau. Pak suami yang melihat perubahan gelagat saya akhirnya mengikuti saya ke kamar tidur. 

Suami: Kenapa?
Saya: Gak tahu. Pening aja. 
Suami: Soal mpek-mpek ya?
Saya: ......
Suami: Kenapa bete gitu hey?
Saya: ......
Suami: Kan tahu kondisinya gimana? Iya aa tahu emosi kamu lagi labil akhir-akhir ini. Tapi bisa kan kita senang-senang dulu sebentar disini? Kasian orang tua aa, masak dijudesin sama menantunya?
Saya: Ya karena itu aku ngajakin makan diluar. Biar pas pulang kesini aku gak buad-baeud. 
Suami: Ooooh.....
Saya: Yaudah deh.
Suami: Ya maaf atuh. 
Saya: Iyaaaa

Tapi pak suami tetap selalu berhasil menghibur saya meskipun saya sempat dongkol karena ajakan makan diluarnya ditolak oleh beliau huhuhu

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day8

6/11/2017 11:39:00 am 0 Comments
Hari ini agenda kami adalah pergi mengunjungi rumah mertua dan menginap di sana. Paginya saya berpesan pada pak suami bahwa sebelum berangkat mengajar saya akan masak terlebih dahulu, jadi ketika saya mengajar saya minta tolong untuk dilanjutkan menghangatkan makanan yang saya masak sehingga kami tinggal pergi berangkat menuju rumah ibu mertua. 

Saya : A, ini aku lagi masak bistik. Bentar lagi jadi. Nanti pas aa pulang tes tolong dihangatin sebentar, ya? Jadi tinggal berangkat kita. Terus pang gorengin kentangnya, ya? Jadi aku tinggal rebus sayurannya aja. Biar gak lama.
Suami: Ok.

Kata 'OK' dari pak suami itu saya artikan bahwa beliau sudah paham. Kemudian berangkatlah pak suami menuju tempat tes dan sayapun bersiap-siap untuk mengajar. 

Sepulangnya saya dari tempat mengajar ternyata pak suami sudah selesai menghangatkan bistik yang saya masak juga menggoreng kentang. Wah, ternyata pak suami paham dan tidak perlu bertanya lagi untuk melakukan apa yang saya pesankan tadi pagi. 

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day7

6/11/2017 11:39:00 am 0 Comments
Hari ini agenda kami adalah pergi tarawih bersama. Setelah beberapa malam kami disibukan dengan agenda masing-masing yang mengakibatkan kami jarang untuk pergi tarwih bersama. Sebelum tarawih saya berpesan pada pak suami bahwa sepulang tarawih saya akan mampir dulu karena akan jajan dengan tetangga. Pak suamipun meng-iyakan. Kemudian kami pergi tarawih bersama.

Selepas tarawih saya bertemu lagi dengan pak suami di pintu masjid. Belum sempat saya mengingatkan agenda saya, pak suami sudah berbicara duluan,

Suami: Aa langsung ke rumah aja ya? Kamu kan mau jajan?
Saya : Eh, iya. Yaudah sok atuh hehehe.
Suami : Ada uangnya? Soalnya aa gak bawa uang.
Saya: Ada kok.
Suami: Yaudah, ditunggu di rumah ya.
Saya: Ya.....

Dan, kesimpulan saya dari kejadian kemarin ternyata benar. Komprod dengan suami lebih berhasil apabila terjadi secara lisan.

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day 6

6/11/2017 11:38:00 am 0 Comments
Well, I've been away for too long. Susah memang untuk konsisten melaporkan setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kami. Karena manajemen waktu yang masih berantakan, alhasil tertundalah sudah semua tugas yang harus disetorkan.

Dari awal akan melaksanakan tugas, saya sudah niatkan untuk berkomunikasi produktif yang Clear and Clarify dengan pak suami. Meskipun pada praktiknya masih tetap sulit untuk berkomunikasi produktif dengan beliau.

Hari ini jadwal mengajar saya tidak terlalu padat, dan sayapun bisa sebelum magrib tiba di rumah. Artinya sangat memungkinkan bagi saya untuk menyiapkan buka puasa di rumah. Sayapun mengabari pak suami bahwa saya akan masak dan menyiapkan menu untuk buka hari ini. Untuk senakin menyenangkan beliau saya tawari menu apa saja yang dia inginkan. Setelah sepakat, berangkatlah saya ke dapur dan siap-siap masak. 

Namun, ditengah agenda saya memasak pak suami mengabari kalau ibu mertua akan buka sendiri di rumah. Karena ayah mertua saya sedang ada acara di kantor walikota. Spontanlah pak suami mengajak kami untuk berbuka di rumah mertua. Saat itu saya sempat dongkol, karena saya rasa saya sudah memberitakan agenda yang akan kami lalui hari ini. Mungkin pak suami lupa atau mungkin ada maksud pak suami yang tidak tersampaikan dibalik berita itu. Dengan menarik nafas panjang sayapun mengulangi lagi agenda yang sudah kami sepakati bersama. Pak suami kemudian menawarkan lagi untuk membawa masakan saya ke rumah ibu mertua. Saya jelaskan lagi saja kalau waktunya tidak memungkinkan karena siang menuju sore saya harus mengajar, apabila saya bawa siang ini masakannya belum siap semua. Artinya saya harus melanjutkan masak di rumah ibu mertua, syukur-syukur kalau keburu sampai sebelum magrib. Belum lagi pertimbangan bumbu dan peralatan yang akan saya bawa nanti ketempat memasak. Juga pertimbangan saya mengendarai motor.

Setelah di jelaskan seperti itu, akhirnya pak suami paham dan mengajak ibu mertua untuk berbuka bersama di rumah kami. Dan sayapun dapat melanjutkan agenda memasak saya dengan tenang.

Yang saya pelajari dari kejadian hari ini adalah, ternyata meskipun sudah di komunikasikan dengan jelas namun tetap cara komunikasi yang terbaik adalah berkomunikasi dengan lisan. Sebelumnya saya hanya mengomunikasikan agenda kami hari ini melalu pesan singkat. Sehingga sepertinya pak suami tidak terlalu paham maksud pesan saya. Dan, yang perlu berlatih untuk berkomunikasi produktif rasanya bukan hanya si istri saja. Pak suami pasti perlu untuk belajar berkomunikasi produktif dengan istrinya.

Tuesday, 6 June 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif #Day 5

6/06/2017 04:55:00 pm 0 Comments

Ternyata ada begitu banyak tantangan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Meskipun kami sudah lama mengenal, tetap saja masih banyak hal-hal baru yang menjadi kejutan di tiap hari kehidupan rumah tangga kami. 

Suamiku, seperti yang aku jelaskan tempo hari, merupakan penganut "Never read code or what-so-ever". Alhasil, aku sering dongkol sendiri jika maksudku itu ditanggapi lain olehnya. Dan entah mengapa, setiap pembelaan yang dia berikan selalu terdengar benar ditelingaku - Ya mana aa tahu. Kamu kan gak bilang begitu - katanya. Makin dongkolah diriku ini.

Kesibukan kami masing-masing membuat kami hanya berkomunikasi lewat lini masa atau jaringan telepon. Sesampainya di rumah, kami terlalu asyik larut dalam dunia maya. Buruk memang. Dan itu yang berusaha kami selamatkan. Lewat latihan ini, saya dan suami merasa sangat terbantu sekali untuk menyelamatkan pola komunikasi kami. Karena kami menyadari, rasa lelah dan penat seharian bekerja bisa membuat komunikasi kami tidak lancar.

Hari ini hari ke 5 latihan komunikasi produktif kami. Hari ini juga saya sudah dengan percaya diri menyiapkan menu untuk buka puasa kami berdua di rumah. Ternyata, menjelang ashar beliau mengabari bahwa beliau harus ikut buka puasa dengan teman kantornya. Bisa dibayangkan kan perasaan saya waktu itu? Dongkol. Wah, tau begini mending gak masak sekalian. Duh bener-bener cobaan pas puasa. 

Saat pak suami memberi kabar, jelas saya merajuk. Tapi akhirnya meng-iyakan. Meskipun sudah terbayang masakan saya akan sisa, karena beliau sudah makan diluar. Tapi saya tidak bilang. Kemudian saya teringat, daripada saya manyun seharian sama beliau saya katakan saja yang sebenarnya. Dan alhamdulillah ternyata pak suami responya baik. 



Monday, 5 June 2017

10 Hari Tantangan Komunikasi Produktif #Day4

6/05/2017 10:22:00 am 0 Comments
Hari ke 4 tantangan komunikasi produktif nih. Waaaaah mulai bisa enjoy ya menerapkannya. Tapi tetap saja terkadang lupa untuk menerapkannya. Meskipun hari kemarin lumayan berhasil, hari ini sepertinya saya lupa lagi untuk bersabar dan konsisten kalau berkomunikasi dengan pak suami itu harus Clear and Clarify. 

Dan terjadilah perkara itu hari ini. Ceritanya hari ini kami harus packing karena akan kembali pulang ke tanah perantauan. Karena sayapun sedang sibuk, maka saya meminta tolong pak suami untuk membantu packing. Salahnya saya, karena sibuk saya lupa untuk menerapkan kaidah Clear and Clarify itu pada suami saya. Saya bilanglah seperti ini,

  "A, tolong bantuin packing barang ya ke tas. Soalnya kita langsung diantar ke stasiun sama bapak." 

Rasanya sudah benar dan sudah jelas perintah saya, tapi saya lupa menyampaikan maksud lain yaitu, tapi jangan dipacking semua ya. Sisain kerudung aku soalnya mau dipakai. Dan benarlah terjadi, suami saya mengerjakan sesuai instruksi tanpa menyisakan kerudung saya-yang memang tidak saya bilang untuk dipisahkan. Alhasil, saya bongkar kembali kerudungnya dan sayalah yang harus mempacking ulang :D 

 

Saturday, 3 June 2017

10 Hari Tantangan Komunikasi Produktif #Day3

6/03/2017 10:07:00 pm 0 Comments
 


Yeay! Sudah masuk hari ke 3 tantangan 10 hari produktifnya. Masih semangaaaaat XD

Hari ini bisa dibilang cukup berhasil melakukan komunikasi yang Clear and Clarify kepada pak suami. Yep, selain hari ini hari libur latihannya pun lebih sering dibanding hari sebelumnya karena kami sedang berada di luar kota. 

Yang namanya pelesir, pasti dibutuhkan komunikasi yang baik karena kami akan mengunjungi tempat-tempat tertentu. Ditambah lagi kami sedang puasa dan kondisi jalan pasti ramai karena hari ini hari Sabtu. Sudah pasti kesabaran dan konsentrasi dalam berbagai hal akan teruji. 

Ceritanya hari ini saya ingin pergi mengunjungi kampus kesayangan. Dengan kondisi jalan yang penuh dan suami yang tidak terlalu hapal jalan menuju kampus, alhasil saya harus selalu memberikan komando; kapan harus belok dan kemana arah yang kami tuju. Hari itu, kami berdua mengendarai motor dan cuaca mulai turun hujan. Dari awal saya sudah bilang pada pak suami agar jalan pelan-pelan. Namun, saya lupa mungkin pesan saya agar jalan pelan-pelan ini kurang jelas karena tidak disertai maksud yang jelas. Maksud saya adalah agar pak suami jalan pelan-pelan supaya mudah bagi saya untuk mengarahkan beliau kemana harus berbelok. Alhasil sempat beberapa kali pak suami salah ambil jalan dan salah belok. Akhirnya sayapun sadar dan sebelum pak suami mengambil jalan saya sudah wanti-wanti dari jauh dengan instruksi yang jelas (menurut saya)


Selanjutnya, ketika diperjalanan menuju rumah, ayah saya berpesan untuk membeli es pisang hijau sebagai takjil di rumah. Karena yakin kalau saya hanya bilang, 'a nanti belin es pisang ijo dulu, ya' pasti akan jadi mala petaka alias saya yang mangkel sendiri, akhirnya saya bilang begini pada pak suami, 'A, nanti mampir di sukor ya! Mau beli es pisang ijo. Aku gak tau tempatnya dimana tapi nanti aa jalan pelan-pelan aja ya.' 

Daaan, alhamdulillah misi terlaksana dengan baik sayapun tidak mangkel dibuatnya hihihi. 

Kesannya, ternyata latihan perharinya itu tidak bisa diduga kuantitasnya. Dan memang menantang sekali ya untuk berkomunikasi yang produktif dengan pasanga

Friday, 2 June 2017

10 Hari Komunikasi Produktif #Day2

6/02/2017 07:57:00 pm 0 Comments

 
Today is the second day of the challenge, and I started to realize that the hardest part is at the begining. Baru hari ke dua aja rasanya aduhaaaaai. Tantangan yang sebenarnya itu ya ternyata dari diri sendiri. Ini baru hari ke dua loh tapi rasanya sudah akan mogok :(

Mungkin yang menjadi sulit adalah intensitas bertemu suami yang terbilang agak jarang, juga kesibukan akan dunia pekerjaan masing-masing. Maka, waktu untuk melatihkan cara komunikasi yang Clear and Clarify itu agak sedikit menantang. 

Dan, ternyata prosesnya itu naik turun ya. Bisa dibilang, latihan di hari pertama berhasil. Keberhasilannya didukung oleh peluang berkomunikasinya yang banyak dan waktu yang santai. Di hari ke dua ini bisa dibilang gagal karena dua-duanya sudah kembali bekerja, jadinya saya sendiri banyak terdistraksi oleh urusan pekerjaan untuk berkomunikasi yang baik dengan suami. 

Hal yang terprediksi akan terjadipun terjadilah. Hari ini rencananya kami akan berangkat ke Bandung naik kereta. Saya sudah sampaikan bahwa jam pulang kerja saya untuk hari ini adalah pukul 6 petang. Namun mungkin informasi yang saya sampaikan tidak terlalu jelas, sehingga sedari pukul 5 petang suami sudah nangkring di depan kantor sambil harap-harap cemas kapan saya akan keluar kantor dan kapan kami akan membeli tiket kereta.


Ya, meskipun hari ini belum berhasil tapi setidaknya hari ini menjadi pengingat bagi saya untuk setidaknya selalu jelas dalam memberikan informasi pada pak suami.


Semangat untuk hari selanjutnya!!!

Thursday, 1 June 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

6/01/2017 10:21:00 pm 0 Comments
Bismillah....

Akhirnya naik kelas juga, akhirnya nulis di blog lagi, akhirnya, akhirnya, akhirnyaaaa. Banyak akhirnya. 
Yap, setelah sekian lama, akhirnya blog ini terisi kembali. Kalau bukan karena situasi tertentu, gak mungkin rasanya ini blog aktif kembali.

Anyway, hari ini tantangan pertama di kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. Tantangannya apa sih? Simple tapi menantang. Kami diminta untuk melatih pola komunikasi yang baik, baik dengan pasangan maupun dengan anak. Singkat cerita, karena kami belum memiliki anak akhirnya latihan komunikasi produktif dengan pasanganlah yang aku pilih.

 

Nah, tabel diatas merupakan isian rutin yang harus diisi untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif. Awalnya, bingung. Ini harus gimana sih? Kemudian setelah dijelaskan, dan memahami medan perang *ceilaaah* akhirnya paham (insyaallah) dan sayapun memilih untuk melatih point Clear & Clarify. 

Sebenarnya kalau diukur, pola komunikasi saya dan pasangan sudah cukup baik. Kami selalu berusaha untuk mengkomunikasikan hal-hal apapun yang terjadi. Baik masalah pribadi, keluarga dan keuangan. Hal ini sudah kami lakukan dari waktu pacaran dulu. Jadilah terbawa kebiasaan sampai kami menikah. Namun, meskipun begitu masih ada celah-celah yang kadang membuat saya dan suami berselisih paham mengenai maksud dan tujuan pembicaraan kami. Hal kecil contohnya, ketika saya dan beliau berselisih paham mengenai pekerjaan rumah.

Kadang, ketika lelah saya mungkin kurang terlalu jelas dalam mengutarakan maksud saya. Yaaa mungkin karena wanita ingin selalu dimengerti ya, jadi saya maunya pak suami ya sudah paham saja saya pengennya diperlakukan bagaimana. Tapi dasar pria, mereka memang tidak bisa membaca kode ya. 

Nah, saya sadari suami saya ini memang bukan tipe pembaca kode. Jadilah, point utama yang akan saya berusaha latihkan terlebih dulu adalah komunikasi yang Clear & Clarify.

Dan hari ini saya pilih sebagai hari permulaan.

Kebetulan hari ini libur, cuaca mendung dan pekerjaan rumah menumpuk. Saat sahur tadi saya berdiskusi dengan beliau mengenai kegiatan kami hari ini. Kemudian, saya utarakan maksud saya untuk bersih-bersih rumah namun saya tidak sanggup melakukannya sendiri. Belajar dari pengalaman dan memang sudah niat untuk berlatih, sayapun dengan hati-hati mengatakannya seperti ini, 

👩🏻: "A, hari ini sebelum ke mama kita bagi tugas gak apa? Aku gak sanggup ngerjainnya sendiri."
👱🏼: "Ok, aa tugasnya apa aja?"
👩🏻: (dalam hati, oke ini harus jelas nih penyampaiannya biar doi gak lupa)"Aku belum nyuci, nyapu, ngepel, nyetrika, dan jemur kain. Tapi aku juga harus masak. Jadi mungkin tugas nyetrika, nyuci sama masak aku aja ya?"
👱🏼: "Oke, aa sisanya ya."
👩🏻: "Apa aja cob?"
👱🏼: "Nyapu, ngepel sama jemur kain." 
👩🏻: "Sip!"

Dan, seharian ini alhamdulillah kami kompak bahu membahu membagi tugas dalam bersih-bersih rumah. Mungkin karena tugasnya simpel jadi suamiku pun bisa memahami maksudnya dengan baik.
Ada rasa puas dan senang ketika maksud kita dipahami oleh suami. Tantangan hari ini selesai dengan baik, semoga besok dan seterusnya pola komunikasinya semakin baik daaaan baik. ❤️
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow Us @soratemplates