Thursday, 1 June 2017

Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Bismillah....

Akhirnya naik kelas juga, akhirnya nulis di blog lagi, akhirnya, akhirnya, akhirnyaaaa. Banyak akhirnya. 
Yap, setelah sekian lama, akhirnya blog ini terisi kembali. Kalau bukan karena situasi tertentu, gak mungkin rasanya ini blog aktif kembali.

Anyway, hari ini tantangan pertama di kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. Tantangannya apa sih? Simple tapi menantang. Kami diminta untuk melatih pola komunikasi yang baik, baik dengan pasangan maupun dengan anak. Singkat cerita, karena kami belum memiliki anak akhirnya latihan komunikasi produktif dengan pasanganlah yang aku pilih.

 

Nah, tabel diatas merupakan isian rutin yang harus diisi untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif. Awalnya, bingung. Ini harus gimana sih? Kemudian setelah dijelaskan, dan memahami medan perang *ceilaaah* akhirnya paham (insyaallah) dan sayapun memilih untuk melatih point Clear & Clarify. 

Sebenarnya kalau diukur, pola komunikasi saya dan pasangan sudah cukup baik. Kami selalu berusaha untuk mengkomunikasikan hal-hal apapun yang terjadi. Baik masalah pribadi, keluarga dan keuangan. Hal ini sudah kami lakukan dari waktu pacaran dulu. Jadilah terbawa kebiasaan sampai kami menikah. Namun, meskipun begitu masih ada celah-celah yang kadang membuat saya dan suami berselisih paham mengenai maksud dan tujuan pembicaraan kami. Hal kecil contohnya, ketika saya dan beliau berselisih paham mengenai pekerjaan rumah.

Kadang, ketika lelah saya mungkin kurang terlalu jelas dalam mengutarakan maksud saya. Yaaa mungkin karena wanita ingin selalu dimengerti ya, jadi saya maunya pak suami ya sudah paham saja saya pengennya diperlakukan bagaimana. Tapi dasar pria, mereka memang tidak bisa membaca kode ya. 

Nah, saya sadari suami saya ini memang bukan tipe pembaca kode. Jadilah, point utama yang akan saya berusaha latihkan terlebih dulu adalah komunikasi yang Clear & Clarify.

Dan hari ini saya pilih sebagai hari permulaan.

Kebetulan hari ini libur, cuaca mendung dan pekerjaan rumah menumpuk. Saat sahur tadi saya berdiskusi dengan beliau mengenai kegiatan kami hari ini. Kemudian, saya utarakan maksud saya untuk bersih-bersih rumah namun saya tidak sanggup melakukannya sendiri. Belajar dari pengalaman dan memang sudah niat untuk berlatih, sayapun dengan hati-hati mengatakannya seperti ini, 

👩🏻: "A, hari ini sebelum ke mama kita bagi tugas gak apa? Aku gak sanggup ngerjainnya sendiri."
👱🏼: "Ok, aa tugasnya apa aja?"
👩🏻: (dalam hati, oke ini harus jelas nih penyampaiannya biar doi gak lupa)"Aku belum nyuci, nyapu, ngepel, nyetrika, dan jemur kain. Tapi aku juga harus masak. Jadi mungkin tugas nyetrika, nyuci sama masak aku aja ya?"
👱🏼: "Oke, aa sisanya ya."
👩🏻: "Apa aja cob?"
👱🏼: "Nyapu, ngepel sama jemur kain." 
👩🏻: "Sip!"

Dan, seharian ini alhamdulillah kami kompak bahu membahu membagi tugas dalam bersih-bersih rumah. Mungkin karena tugasnya simpel jadi suamiku pun bisa memahami maksudnya dengan baik.
Ada rasa puas dan senang ketika maksud kita dipahami oleh suami. Tantangan hari ini selesai dengan baik, semoga besok dan seterusnya pola komunikasinya semakin baik daaaan baik. ❤️

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow Us @soratemplates