Sunday, 26 February 2012

Draft: Cinta (tidak) Butuh Deklarasi.

Inspired by ivalasyif and furryandini

Setahu saya cinta itu butuh deklarasi.

Semuanya berawal dari percakapan saya dengan ivalasyif di akun twitter. Tweet yang berisi petikan buku Fitrop-Kening, tentang -status hubungan seseorang bukanlah hal yang penting jika kedua belah pihak saling mengetahui perasaan masing-masing- telah mengusik paradigma saya selama ini tentang status dan hubungan.
Dari situ saya berpikir, eh iya ya. Buat apa pacaran kalau kita udah tahu perasaan masing-masing? mau apalagi?

Tapi kemudia saya berpikir lagi, tapikan dengan pacaran berarti kita sudah mendeklarasikan cinta kita?kemudian terikat kan?dan dengan terikat artinya kita punya tanggung jawab untuk menjaga cinta itu agar bertahan lebih lama?

Begini, setiap orang memiliki prinsip, visi dan misinya masing-masing. Sepengamatan saya pada dua orang sahabat saya, mereka bukannya tidak mau untuk mendeklarasikan cinta mereka tapi lebih tepatnya belum siap. Waktu dan keadaan yang membuat mereka masih enggan untuk mendeklarasikan cinta mereka. Salah? tentu saja tidak. Sekali lagi hal ini kembali pada prinsip setiap individu. Berjalan atau tidaknya hubungan ini tergantung bagaimana mereka menjaga ego dan perasaan masing-masing. Hal ini sejalan dengan paham bahwa cinta itu tidak butuh deklarasi, simbolisme dan glamourisme, yand dibutuhkan adalah komtimen.

Oke, disini paham saya mengenai cinta butuh deklarasi mulai goyah.

Bukankah pacaran, tunangan, menikah adalah bentuk dari deklarasi cinta?


Kembali lagi, apakah cinta butuh deklarasi?



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow Us @soratemplates